Efektivitas Otak Anak Usia Dini dalam Mengenal Calistung

Otak merupakan organ tubuh vital manusia yang berfungsi sebagai pusat kontrol dan kendali atas semua sistem dalam tubuh. Bahkan otak dijadikan sebagai acuan mengidentifikasi mutu berpikir seseorang. Anak yang otaknya cerdas sering disebut “otak encer”, sedangkan anak yang memiliki keterlambatan berpikir biasa disebut “otak udang”. Kedua istilah itu sebagai bentuk representasi daya pikir manusia. Setiap orang tua menginginkan anaknya berotak cerdas. Untuk itu perlu dipersiapkan sejak dini, pembelajaran yang tepat
sesuai usia anak. Selain itu, urutan materi stimulasi juga harus sistematis sesuai urutan perkembangan otak anak. Ketepatan pemberian stimulasi diharapkan dapat membentuk syaraf-syaraf otak anak berfungsi secara maksimal.

Batita maupun balita disebut sebagai the golden age. Pada usia emas tidak jarang orang tua yang disibukkan untuk mendesak anak ataupun guru untuk mengajarkan calistung kepada AUD. Orang tua menuntut supaya anaknya mahir membaca, menulis, dan berhitung mulai sejak dini. Hal ini bertolak belakang dengan aturan yang diberlakukan oleh Dinas Pendidikan. Aturan yang tertuang dalam surat edaran dari Dirjen Dikdasmen Nomor: 1839/C.C2/TU/2009 berisikan tentang kriteria calon peserta didik di MI/SD berusia sekurang-kurangnya 6 tahun (Wahyuti, 2010). Adapun bagi siswa yang berusia kurang dari 6 tahun, dilakukan atas dasar rekomendasi tertulis dari pihak yang berkompeten, seperti konselor dan psikolog. Baik yang berusia 6 tahun ataupun kurang dari itu, keduanya tidak diperkenankan untuk menerima tes dalam bentuk apapun.

Faktanya tidaklah demikian. Sekolah tingkat TK/RA/yang sederajat telah memberlakukan pengajaran calistung. Penguasaan calistung bagi AUD dijadikan sebagai patokan bagi sekolah-sekolah SD/MI favorit, sehingga banyak orang tua yang mengejar tuntutan tersebut. Bagi yang lulus TK/RA/sederajat telah menguasai calistung, mereka berkesempatan masuk di sekolah favorit. Hal ini tentu melenceng dari aturan Dikdasmen. Orang tua perlu mengetahui perkembangan sekaligus kemampuan Otak AUD. Dengan begitu, para orang tua dapat mengetahui batasan-batasan knowledge yang tepat dikenalkan dan diajarkan
kepada AUD. Waktu yang digunakan untuk mengajarkan membaca, menulis, atau berhitung akan lebih tepat
disampaikan. Orang tua perlu mengetahui kapasitas otak anak dalam menerima pengajaran calistung.

Strategi mengajarkan calistung juga harus tepat.  Sistematika atau urutan pengajaran juga perlu diperhatikan oleh orang tua. Dalam artikel ini akan dibahas komposisi otak anak yang berkaitan dengan kesiapan anak dalam mengenal calistung, strategi mengajarakan calistung pada AUD, stimulasi otak pada AUD, serta urutan materi calistung yang tepat diajarkan kepada anak.

Zulfatun Anisah
Dosen PIAUD STAI Al Hikmah Tuban

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *